Daun Dan Angin

Udara subuh masih mengajarkan tabah pada dada, sementara mata sudah semakin berat, dengan lingkaran hitam yang tak pernah terlepas.

Lalu, pada detik-detik, dimana malam semakin menua, sebuah kertas dengan bait puisi terindah telah habis kurangkai dengan namamu. Meski yang ada hanya ‘abai’ hingga dinding pipi membasah oleh embun-embun yang jatuh dari kelopak.

Kemana hendak berlari saat sepi?

Sementara pada keramaian, aku hanya terus menjelma munafik. Topeng senyuman sengaja kupasang pada wajah yang pasrah di sayat kepergian. Juga hati yang berpasrah pada tebasan sebuah kehilangan.

Mungkin, kau bilang ini keterlaluan, tapi inilah nyatanya. Seserius inilah aku berusaha memakamkan prihal kita. Sebab, bila hanya terus-terusan mengingat, yang ada juga sama saja; percuma.

Mungkin kau mengira aku terlalu lemah, yah. Seperti itulah aku, ketika dihadapkan pada kehilanganmu. Tapi jangan khawatir, ini hanya perihal waktu, cepat atau lambat, sebutan tabah akan mendekati hatiku, layaknya daun yang jatuh. Yang rela, tanpa pernah manaruh dendam pada angin. Yang ikhlas, meski hanya berakhir di gilasan kaki para pasangan yang sedang berjalan berdua.

Berjuang memang harus seperti daun, tak perlu takut harus gugur, cukup ‘tabah’ yang seharusnya di biarkan menghutan, agar tak dendam pada angin.

Dialog

Mungkin bagi sebagian orang, bahkan termasuk saya, nongkrong adalah soal bercanda bersama, soal seru-seruan bersama. Tapi, malam ini ada yang membuatku berfikir panjang. Bahwa nongkrong tidak sesempit itu, ada banyak pelajaran yang bisa di petik.

Seperti halnya, malam tadi. Sekitar jam setengah 12 malam, baru saja aku dan beberapa kawanku ingin segera pulang, sehabis berkumpul. Tapi ada satu perempuan yang baru kukenal, mengajakku sedikit berdialog. Namun karena nyaman, aku akhirnya keasyikan berbicara, membahas tentang perdamaian, membahas tentang pendidikan, membahas belajar dari pengalaman hidup, Membahas tentang buku-buku.

Dari caranya berbicara, aku tersadar oleh satu hal, betapa rendahnya selama ini pengetahuanku, ilmu yang kudapat selama tidak ada apa-apanya. Masih banyak ilmu yang mesti aku pelajari. Sialnya, perempuan inilah yang membuatku berfikir, bahwa bersosialisasi itu penting. Karena dari sana terdapat banyak pengalaman berharga.

Dia adalah perempuan bermata sendu, dan menjadi keluarga baruku di disini.

Terimakasih

Aku berterimakasih kepada gelap,

yang selalu menjadi teman, saat waktu-waktu belum bisa menjadikan kita genap

/

Aku berterimakasih kepada sang penyair,

yang karyanya selalu menjadi kawan, saat waktu tak kunjung membuat perasaanmu lahir

/

Aku berterimakasih kepada barista di kedai-kedai kopi,

yang racikannya selalu menjadi sahabat, saat waktu membiarkanku menjadi sendiri

/

Aku berterimakasih kepada orang-orang yang pandai mempermainkan nada,

yang setiap senandungnya membuat hati menunda luka

/

Aku berterimakasih kepada laut dan gunung

yang setiap lukisannya, menjadi penawar untuk perih yang kian menggunung

/

Aku berterimakasih kepada segalanya,

juga pemilik segala-Nya

Karena telah menjadi teman, untuk setiap waktu-waktu yang hilang

.

.

— Imran Ahmad, 2017

Kepada Perempuan

Kepada seseorang perempuan yang pernah tinggal hingga kemudian tanggal dan berlayar di perairan mataku, menuju jauh yang paling jauh

Kini kita tersekat

Apakah degup itu ‘masih’?

Atau justru sudah asing?

Apakah, kau berhasil manghapus tentang kita yang pernah ‘saling’? Semoga saja
Disini, sekarangku telah berhasil mengenangmu, lalu memasukkanmu dalam buku-buku menjadi makam yang sewaktu-waktu kuziarahi, saat aku sedang rindu.
Disini, ada sesuatu dalam diriku yang masih tinggal, serupa ingatan yang bertanggal kepergianmu
Suara itu,

wangi parfum kesukaanmu,

getir kopi kesayanganmu,

juga kertas catatanmu,

Tiba-tiba membentuk cerita

Meski harapan tak tersisa meski secerca
Tiba-tiba pertanyaan memburai di langit-langit kamarku

Apakah, kau ingat senja hari itu?

Dimana kita sama-sama sadar, bahwa dalam hening pun, kita masih bisa saling berbincang.

.

.

— Imran Ahmad, Juni 2017

TIDAK BISA TIDAK

Segalanya berkerumun jadi satu

Wangimu menggantung pada penciumanku

Suaramu terngiang dalam pendengaranku

Wajahmu bersarang dalam pandanganku

/

Kopi yang getir

Menjelma ekstasi tebu

Kertasku yang kosong

Menjelma cerita

/

Langit yang menguning

Adalah aku yang mengenang

Daun-daun yang luruh

Adalah aku yang runtuh

/

Teringat malam itu;

Senyumanmu menjatuhkanku diantara gugup dan terbata

Teringat malam itu;

Mata kita bersenggama

Lalu dalam rahim kepalaku,

Tertanam benih diksi

Tiba-tiba, kau menyapa

Lalu kandungan dalam kepalaku membesar

Dan aku tidak bisa tidak melahirkan puisi; untukmu

/

Kau buat aku percaya

Tentang kembali jatuh

Dan aku tidak bisa tidak

Menganggapmu sebagai hal baru

/

Aku

Tidak bisa tidak

Menyebut ini; renjana

SADAR

Malam ini, aku menyendiri. Selain karena malas keluar, juga karena saya perlu untuk sendiri . Namun, prihal sendiri, selalu saja ada yang kadang membuat kita resah. Entah tentang ini, tentang itu, dan tentang banyak hal lagi.
Iseng, kubuat status di BBM, seperti biasa, tentang hati.

Lalu salah seorang kawanku, berkomentar. “yayayaya. Jangan ki mau tinggal meratap saja di sebuah kegagalan, kalau sudah mki bangkit untuk coba ki, tapi tetap ji seperti itu. Lebih baik bangkit ki untuk hal baru. Jangan smpai waktu ta habis semangatta memudar, langkahta terus tertuju pada 1 hal, sementara hal itu yang buatki meratap. apa gunanya hal baru yang di sekitar ta?? yang mngkin kalau  dicoba ki, bakalan memberi arti”

Kata-kata itu tiba-tiba membuatku sejenak berfikir untuk mengkaji lebih dalam. Mungkin benar, selama ini saya terlalu bergantung sama satu hal (dia) padahal selama ini cuma menyakiti tanpa sedikitpun menghargai.

Selain itu, kawanku ini juga mengingatkanku pada kata-kata seorang musisi, yang juga seorang penulis (Fiersa Besari) katanya “beberapa mimpi memang hanya perlu menjadi bunga tidur, tidak untuk jadi kenyataan”

Mungkin seperti itulah dia yang selalu kuimpikan, selalu kuinginkan, dan selalu kuharapkan. Tapi, dia tetap hanya bisa kukagumi dari kejauhan.

Mungkin saatnya aku sadar, perasaan memang tak selamanya harus berbalas. Mungkin, dia diciptakan hanya bisa untuk kukagumi tidak untuk kumiliki. berjuang juga perlu untuk menyerah, karena yang paling keras menyakiti adalah, bertahan dengan luka. Aku sadar, kadang kita perlu melepaskan. Dan kini aku mengerti, definisi melepaskan mungkin kurang lebih seperti ini. “saat kita tak lagi mencoba untuk melupakan, dan saat mengingatnya tak lagi terasa melukai”

Yah, mungkin saatnya aku juga harus sadar diri, mimpi memang tak semuanya harus jadi kenyataan.

Namun, saya tidak pernah menganggap, bahwa berjuang selama ini adalah kegagalan, meski tanpa balasan. Karena setidaknya sayalah yang paling berhasil sejauh ini, bahkan karena itulah, aku bisa menulis sejauh ini. Perjuanganku jauh lebih berhasil dari orang yang telah mendapatkan yang terbaik dari dia (hatinya).

Saatnya berbenah, kisah selanjutnya mungkin jauh lebih berarti. Daripada bertahan dengan yang terus menyakiti.

Terkadang, tidak semua yang melayang itu akan mendarat dengan selamat, tidak semua drama berujung dengan ending yang bahagia, tidak semua yang menyayangi harus mendapatkan balasan menyayangi. Kadang kita memang perlu mengalah pada kenyataan. Karena apa yang di perjuangkan tak perlu di tuntut setara dengan apa yang kita dapatkan.

Tuhan, punya kejutan yang lebih baik.

RENJANA

Adalah namamu yang membersamai detak

Adalah wajahmu yang membersamai khayalan tiap detik

Adalah wangimu yang membersamai penciumamku tanpa titik

Adalah kau yang membersamai renjana meski hanya berakhir dengan mata yang merintik